Sabtu, 10 September 2016

ayo berkurban

Hallo guys….. sekarangkan kita umat muslim akan menyambut hari raya idul adha, alangkah lebih baiknya kita cari tahu bagai mana sich hukum dan tatacara nya…

Oke langsung saja ya guys..

Sholat idul fitri dan idul adha menurut imam syafi’I dan imam malik adalah sunah, sedangkan menurut imam hanafi adalah wajib dan menurut imam hambali adalah fardhu kifayah.
Bagi seluruh muslim dan muslimah dianjurkan untuk melaksanakan sholat hari raya idul fitri dan idul adha dengan berjamaah kecuali bagi mereka yang sedang mengerjakan ibadah haji, hal itu dikarenakan banyaknya hal yang harus mereka kerjakan pada hari itu, maka bagi mereka lebih utama untuk melaksanakan sholat hari raya idul adha dengan tanpa berjamaah.
Dan bagi mereka para musafir,budak,hunsa(mempunyai kelamin ganda),perempuan dan mereka yang dalam keadaan perang tidak dianjurkan untuk melaksanakan sholat ied dengan berjamaah, dan untuk wanita yang sudah lanjut usia di perbolehkan untuk sholat berjamaah dengan pakain sehari-hari yaitu bukan pakaian yang bagus, dengan tanpa wewangian kecuali bagi yang sudah mendapatkan izin dari suaminya.gitu guys….

Oke guys itu adalah gambaran sedikit terkait hukum sholat idul fitri dan idul adha, sekarangkita akan melanjutkan tatacara sholat idul idul fitri dan idul adha…

Waktu untuk melaksanakan sholat idul adha adalah ketika terbitnya matahari kira-kira seukuran tombak sampai dengan waktu istiwa’ atau waktu zuhur.
Seseorang yang akan melaksanakan sholat idul fitri atau idul adha ia takbiratul ihram dan berniat dengan “saya niat sholat idul fitri atau idul adha” yang kemudian dilanjutkan dengan do’a iftitah, kemudian ia takbir lagi sebanyak tujuh kali kemudian membaca al-fatihah dan membaca surat qof secara jahr kemudisn ruku’ dan sujud diteruskan dengan rokaat yang kedua yaitu dengan takbir sebanyak lima kali kemudian membaca surat iqtaroba atau al a’la atau alghasiyah.

Setelah kita tahu tata cara sholat idul fitri dan idul adha, ayuk kita cari tahu bagaimanasich takbiran itu guys….

Takbiran itu terbagi menjadi dua guys yang pertama yaitu takbir mutlaq yaitu takbiran yang bukan setelah sholat dan takbir muqoyad yaitu takbir yang setelah sholat.
Takbir mutlaq itu disunahkan guys…!!! Kapan waktunya??? Yaitu ketika malam hari raya idul fitri dan idul adha sampai ketika imam naik mimbar guys. Dimana itu guys?? Di rumah di jalan di pasar di masjid dan dimanapun tempat berkumpul orang guys.
Sekarang takbir muqoyad guys,takbir ini disunahkan setelah sholat fardhu dan sholat setiap sholat sunah guys baik itu sholat mayat gerhana ataupun sholat sunah rowatib, hal ini sapai kapan guys??? Yaitu sampai habis hari tasyri’ bagi hari raya idul adha dan tidak di sunahkan bagi hari raya idul fitri.

Hay guys….

Uda bisa bacaan tabir belum??? Kalau belum ini lho bacaanya….

اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَر اَللَّهُ اَكْبَرْ ـ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ ـ اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ
اَللَّهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً ـ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَلاَنَعْبُدُ اَلاَّ اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْـدَهُ وَنَصَرَعَبِدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ . اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ

Okey guys…..

Semoga bermanfaat….

Salam Berbagi itu indah…

Jumat, 10 Juni 2016

penyanyi cilik yang berbakat yang harus di lihat

lagu nasyid yang di lantunkan oleh adek-adek alhikmah yang sangat menarik untuk di lihat.

cara berinteraksi dengan sunah

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Alqur’anul karim adalah suatu pertanda yang agung mu’jizat yang besar yang di turunkan kepada nabi Muhammad SAW,yaitu kitab yang di dijaga kekekalanya yang tidak akan mendatangkan kebatilan sebelum dan sesudahnya. Alqur’an merupakan pilar utama yang kokoh dari awal hingga ahirnya, oleh karena itu ia membutuhkan dengan keterangan lain yang menjelaskan tentang cabang-cabang yang muncul dari pilar tersebut, dan sunnah nabawiyah datang untuk menjelaskan tentang cabang yang muncul dari pilar tersebut seperti di firmanya
بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلزُّبُرِۗ وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ٤٤
44. keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.
            Kemudian Rosululloh SAW memberikan penjelasan dari Alqur’an tersebut dengan ucapanya perbuatanya dan ketetapanya, dan oleh sebab itu kita mengetahui bahwasanya Sunnah itu menjelaskan tatacara  dari pengamalan Al-qur’an.
            Bagi siapapunyang menginginkan untuk mengetahui metodologi dalam memahami amaliyah islam secara terperinci beserta rukun-rukunya maka hendaknya ia mengetahui perincian dari sunnah Nabawaiyah yang berupa Qouliyah,fi’liyah dan taqririyah.
B.     Rumusan masalah.
1.      Bagaimana kedudukan Assunah?
2.      Bagaimanakah metode dalam memahami Assunah?
3.      Golongan siapa saja yang harus di waspadai?
4.      Apakah perinsip dasar memahami Assunah?
C.     Tujuan
1.      Mengetahui tatacara memahami Assunah dan yang perlu di waspadai




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Kedudukan Asunnah
Alqur’anul karim merupakan sumber pokok dalam agama islam yang menjadi rujukan utama dalam menggali hukum, sedangkan sunnah adalah penjelasan terkait apa yang dikandung oleh Al-qur’an yang di jelaskan dengan perkataan nabi, perbuatan serta ketetapan beliau.
berikut adalah metode penggolongan  Asunnah terhadap alqur’an:
1.      Asunnah metode syumuli/komperhensif.
Ketika ayat Al-qur’an diturunkan dengan bahasa bahasa yang global maka Asunnah memberi uraian tentang makna global tersebut, seperti contoh  kompleksnya kehidupan manusia seluruhnya maka itu semua di uraikan seluruhnya di dalam sunah yang berupa perkataan nabi, perbuatan dan ketetapanya dalm kehidupan beliau sehari-hari dan ini di golongngkan menjadi beberapa bagian
a.       panjangnya: dari mulai kelahiran sampai kematianya  
b.      esensi hubungan vertical: hidayah kenabian yang turun di rumah, pasar, di jalan, ketika bekerja dan lain-lain.
c.       kedalamanya: yang berhubungan dengan sendi kehidupan manusia yaitu tubuh, akal, ruh, dhohir batin, perkataan, akal, dan niat.
Seperti di dalam Al-qur’an:
وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ تِبۡيَٰنٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ ٨٩
Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
Kata تِبۡيَٰنٗا berarti menjelaskan atau sebagai penjelas atas setiap sesuatu, dan salah satu fungsi dari assunah adalah menjelaskan dan melengkapi dari keterangan Al-qur’an tersebut.
2.      Assunah metode mutawazanan/penyeimbang.
Yaitu assunah menuntut untuk bebuat adil dan seimbang antara ruh dan jasad, hati dan akal, dunia dan akhirat, contoh dan kenyataan, angan-angan dan aplikasi, ketika sendirian dan golongan, antara pengikut dan mengikuti. seperti di sebutkan dalam ayat 8-9 pada surat Ar-rahman:
 أَلَّا تَطۡغَوۡاْ فِي ٱلۡمِيزَانِ ٨ وَأَقِيمُواْ ٱلۡوَزۡنَ بِٱلۡقِسۡطِ وَلَا تُخۡسِرُواْ ٱلۡمِيزَانَ ٩
 Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.
3.      Assunah metode takmili/penyempurna.
Yaitu Assunah menuntut kesempurnaan iman dengan pengetahuan, wahyu dengan akal, supaya antara keduanya berkolaborasi sehingga menjadi nurun ‘ala nur (cahaya diatas cahaya) seperti yang di terangkan dalam surat annur ayat 35.
Dan akan menjadi sebuah kesempurnaan jika sebuah peraturan bersandingkan pendidikan, kekuatan (kekuasaan) bersandingkan kebenaran, pemerintahan bersandingkan da’wah, karena nabi kita Muhammad SAW merupakan  seorang penguasa sekaligus shahibul quran alqur’an, pendakwah sekaligus pemerintah, jika demikan maka kehidupan kita akan menjadi sempurna. Dan nabipun tidak menghendaki seperti ajaran Kristen yang membagi kekuasaan antara Alloh dan penguasa agama untuk Alloh dan kekuasaan untuk para penguasa, tetapi beliau dia ajarkan untuk menggabungkan keduanya seperti dalam ayat:
قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٦٣
 Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".
4.      Assunah methode waqi’iyah/realita.
Yaitu memandang manusia sebagaimana mestinya, yaitu tidak menganggap malaikat, tapi adalah manusia yang membutuhkan makan, berjalan di pasar, yang mempunyai kelemahan dan kebutuhan.

5.      Assunah methode muyasir/mempermudah.
Ciri-ciri dari methote ini adalah mudah dan gampang serta toleran, dan ini merupakan hasil  dari realita. Dan sifat dari nabi adalah:
ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٥٧
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma´ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Maka di dalam assunah tidak terdapat hal yang memberatkan manusia di dalam agamanya atau membahayakan dunianya tapi beliau berkata “saya tidak di utus kecuali menjadi rahmad bagi seluruh alam.

B.     Kewajiban muslim mengikuti Assunah.
Salah satu kewajiban dari seorang muslim ialah memahami manhaj nabawi secara terperinci melalui metode syumul, takamil, tawazun, waqi’iyah, tayasir dan apapun yang sudah jelas dari maslah ketuhanan,kemanusiaan, akhlaq supaya dapat diambil sebagai uswatun hasanah seperti firmanya dalam surat al ahzab:
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah
وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٧
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.
Maka diwajibkan kepada setiap muslim untuk mengetahui bagaimana menghiasi diri dengan Assunah Nabawiyah, mengamalkan dan memahami jalanya seperti yang dilakukan oleh generasi terbaik era ini yaitu mereka yang mengikuti nabi dalam jalan kebenaran, mereka mengajar dan mengamalkan Assunah dengan baik.
C.  Hal-hal yang harus di waspadai dalam berinteraksi dengan Assunah:
a.       Orang yang belebihan yaitu: orang yang memalingkan makna hadist dari makna yang semestinya, yang menyimpang dari tawasuth yang menjadi ciri dari agama ini, menjauhkan dari asamhah yang menjadi jalan yang lurus, dan memalingkan keringanan  beban di dalam syari’at.
b.      Pernyataan orang yang batil yaitu: pernyataan orang yang batil yang mengubah  esensi dari hadist dan merubahnya kedalam makna yang bukan semestinya.
c.       Ta’wil dari orang yang bodoh: yaitu takwil yang menghilangkan hakikat dari islam, mengubah makna kalimat dari hadist dari yang semestinya, mengikis islam sedikit demi sedikit, menghilangkan hukum-hukum dan ajaran-ajaran yang penting, seperti usaha mereka untuk memasukan hal yang bukan bagian dari Assunah.

D.    Dasar-dasar pokok mengamalkan Assunah.
Seyogyanya bagi orang yang ingin mengamalkan Assunah untuk mewaspadai tulisan orang-orang yang batil, orang yang berlebihan dan orang yang takwilnya orang yang bodoh dan menetapkan beberapa dasar pokok dalam mengamalkan Assunah:
1.      Mengakui ketetapan Assunah
Yaitu mengakui ketetapan Assunah dan kesahihan dengan kaedah ilmiyah dan akurat yang telah di tetapkan oleh imam yang diakui kredibilitasnya mencakup sanad dan matan atau perkataan perbuatan dan ketetapan nabi SAW.
2.      Memahami dengan baik Assunah.
Hendaknya memahami sunah nabi dengan baik, dengan melihat dari segi bahasanya, dan konteksnya hadis, sebab di turunkanya dan lain-lain.berkata syekh Mahmud syaltut rektor Azhar terdahulu: sesungguhnya bencana dalam hadis itu bukan dengan tidak shahihnya suatu hadis, terkadang orang menukil suatu hadis shahih namun memahaminya dengan pemahaman yang salah,oleh karena itu para peneliti dari ulama-ulama kita terdahulu telah memperingati kita agar tidak jatuh dalam pemahaman yang salah dalam memahami hadis
3.      Terhindarnya suatu hadis dari hadis lain yang lebih kuat.
       Yaitu memastiakan tidak adanya nash-nash lain yang bertentangan dan lebih kuat baik dari Alqur’an dan  hadist yang lain baik ditinjau dari segi jumlah perawi (ahad atau mutawatir) atau kesahihannya, atau lebih sesuai dengan ilmu-ilmu ushul.
Perkara ini merupakan salah satu bagian penting  dalam ilmu ushul fiqh,dan ilmu ushul hadis, atau dikenal dengan istilah (ta’arudh wa tarjih) hal itu dikarenakan terkadang ada beberapa hadis yang secara zhairnya bertentangan dengan hadis lainnya, namun pada hakikatnya tidak bertentangan, untuk itu hendaklah para ahli ilmu dan fiqih untuk menghilangkan hal-hal yang bertentangan secara zhahirnya dengan men kompromikannya apabila mungkin, atau dengan mentarjih diantara keduanya.





BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan.  
Dalam memahami Alqur’an al-karim tentunya memerlukan banyak komponen yang harus di kuasai oleh seseorang yang akan memahaminya, dan pemahaman yang diperoleh akan tidak benar jika hal-hal tersebut kurang di perhatikan diantara komponen yang terpenting yang harus di kuasai  dalam memahami Al-qur’an adalah Assunah atau keterangan dari nabi Muhammad SAW yang berupa perkataan,perbuatan, dan ketetapan beliau. Untuk mempermudah dalam memahami assunah para ulama’ mencoba menawarkan metode-metode untuk memahaminya, begitu pula imam Yusuf Al-qordhowi beliau menawarkan sebuah metode dalam memahami Al-qur’an diantaranya yaitu menggulongkan assunah di dalam beberapa penggolongan:
1.      Metode syumuli atau kompehersif.
2.      Metode mutawazan atau keseimbangan.
3.      Metode takmili atau penyempurna.
4.      Metode waqi’I atau kenyataan.
5.      Metode muyasir atau mempermudah.
Kemudian setelah itu beliau memberi infomasi kepada kita semua bahwasanya setiap muslim wajib untuk mengikuti dan menjalankan tuntunan yang telah diajarkan oleh nabi Muhammad SAW, seperti yang termaktub dalam surat ali imram ayat 31 “maka apabila kalian cinta kepada Alloh maka ikutilah aku maka Alloh akan cinta kepadamu dan Dia akan memberi ampunan atas dosa-dosa kalian”. Tapi beliau juga memberi rambu-rambu kepada kita untuk waspada kepada tiga kelompok yang ingin merusak islam yaitu:
1.      Pengaliahan makna dari golongan orang yang melewati batas.
2.      Pengalihan makna dari orang yang batil.
3.      Takwil dari orang yang bodoh.
Tidak hanya berhenti di sana, tapi beliau Yusuf Al-qordhowi memberikan dasar-dasar yang harus di miliki oleh seseorang yang ingin mengamalkan Assunah yaitu:
1.      Mengakui ketetapan dan keabsahan suatu hadist.
2.      Memahami hadist dengan baik.
3.      Terhindarnya suatu hadis dari hadis lain yang lebih kuat.
DAFTAR PUSTAKA


1.      Al-qordhawi yusuf Kaifa nata’amal ma’a sunnati nabawiyah,dar asyuruq 2004.