Jumat, 10 Juni 2016
penyanyi cilik yang berbakat yang harus di lihat
cara berinteraksi dengan sunah
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Alqur’anul karim adalah suatu
pertanda yang agung mu’jizat yang besar yang di turunkan kepada nabi Muhammad
SAW,yaitu kitab yang di dijaga kekekalanya yang tidak akan mendatangkan
kebatilan sebelum dan sesudahnya. Alqur’an merupakan pilar utama yang kokoh
dari awal hingga ahirnya, oleh karena itu ia membutuhkan dengan keterangan lain
yang menjelaskan tentang cabang-cabang yang muncul dari pilar tersebut, dan
sunnah nabawiyah datang untuk menjelaskan tentang cabang yang muncul dari pilar
tersebut seperti di firmanya
بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلزُّبُرِۗ وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ
لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ٤٤
44.
keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al
Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada
mereka dan supaya mereka memikirkan.
Kemudian Rosululloh SAW memberikan
penjelasan dari Alqur’an tersebut dengan ucapanya perbuatanya dan ketetapanya,
dan oleh sebab itu kita mengetahui bahwasanya Sunnah itu menjelaskan
tatacara dari pengamalan Al-qur’an.
Bagi siapapunyang menginginkan untuk
mengetahui metodologi dalam memahami amaliyah islam secara terperinci beserta
rukun-rukunya maka hendaknya ia mengetahui perincian dari sunnah Nabawaiyah
yang berupa Qouliyah,fi’liyah dan taqririyah.
B.
Rumusan
masalah.
1.
Bagaimana
kedudukan Assunah?
2.
Bagaimanakah
metode dalam memahami Assunah?
3.
Golongan
siapa saja yang harus di waspadai?
4.
Apakah
perinsip dasar memahami Assunah?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui
tatacara memahami Assunah dan yang perlu di waspadai
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Kedudukan
Asunnah
Alqur’anul
karim merupakan sumber pokok dalam agama islam yang menjadi rujukan utama dalam
menggali hukum, sedangkan sunnah adalah penjelasan terkait apa yang dikandung
oleh Al-qur’an yang di jelaskan dengan perkataan nabi, perbuatan serta
ketetapan beliau.
berikut
adalah metode penggolongan Asunnah
terhadap alqur’an:
1.
Asunnah
metode syumuli/komperhensif.
Ketika ayat
Al-qur’an diturunkan dengan bahasa bahasa yang global maka Asunnah memberi uraian
tentang makna global tersebut, seperti contoh
kompleksnya kehidupan manusia seluruhnya maka itu semua di uraikan
seluruhnya di dalam sunah yang berupa perkataan nabi, perbuatan dan ketetapanya
dalm kehidupan beliau sehari-hari dan ini di golongngkan menjadi beberapa
bagian
a.
panjangnya:
dari mulai kelahiran sampai kematianya
b.
esensi
hubungan vertical: hidayah kenabian yang turun di rumah, pasar, di jalan,
ketika bekerja dan lain-lain.
c.
kedalamanya:
yang berhubungan dengan sendi kehidupan manusia yaitu tubuh, akal, ruh, dhohir
batin, perkataan, akal, dan niat.
Seperti di dalam Al-qur’an:
وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ تِبۡيَٰنٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى
وَرَحۡمَةٗ وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ ٨٩
Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan
segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang
yang berserah diri.
Kata تِبۡيَٰنٗا berarti menjelaskan
atau sebagai penjelas atas setiap sesuatu, dan salah satu fungsi dari assunah
adalah menjelaskan dan melengkapi dari keterangan Al-qur’an tersebut.
2.
Assunah
metode mutawazanan/penyeimbang.
Yaitu assunah
menuntut untuk bebuat adil dan seimbang antara ruh dan jasad, hati dan akal,
dunia dan akhirat, contoh dan kenyataan, angan-angan dan aplikasi, ketika sendirian
dan golongan, antara pengikut dan mengikuti. seperti di sebutkan dalam ayat 8-9
pada surat Ar-rahman:
أَلَّا تَطۡغَوۡاْ فِي ٱلۡمِيزَانِ ٨ وَأَقِيمُواْ
ٱلۡوَزۡنَ بِٱلۡقِسۡطِ وَلَا تُخۡسِرُواْ ٱلۡمِيزَانَ ٩
Supaya kamu jangan
melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil
dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.
3.
Assunah
metode takmili/penyempurna.
Yaitu Assunah menuntut kesempurnaan iman dengan pengetahuan, wahyu
dengan akal, supaya antara keduanya berkolaborasi sehingga menjadi nurun ‘ala
nur (cahaya diatas cahaya) seperti yang di terangkan dalam surat annur ayat 35.
Dan akan menjadi sebuah kesempurnaan jika sebuah peraturan
bersandingkan pendidikan, kekuatan (kekuasaan) bersandingkan kebenaran,
pemerintahan bersandingkan da’wah, karena nabi kita Muhammad SAW merupakan seorang penguasa sekaligus shahibul quran
alqur’an, pendakwah sekaligus pemerintah, jika demikan maka kehidupan kita akan
menjadi sempurna. Dan nabipun tidak menghendaki seperti ajaran Kristen yang
membagi kekuasaan antara Alloh dan penguasa agama untuk Alloh dan kekuasaan
untuk para penguasa, tetapi beliau dia ajarkan untuk menggabungkan keduanya
seperti dalam ayat:
قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ
ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ
ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٦٣
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku,
ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.Tiada
sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah
orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".
4.
Assunah
methode waqi’iyah/realita.
Yaitu memandang
manusia sebagaimana mestinya, yaitu tidak menganggap malaikat, tapi adalah
manusia yang membutuhkan makan, berjalan di pasar, yang mempunyai kelemahan dan
kebutuhan.
5.
Assunah
methode muyasir/mempermudah.
Ciri-ciri dari
methote ini adalah mudah dan gampang serta toleran, dan ini merupakan hasil dari realita. Dan sifat dari nabi adalah:
ٱلَّذِينَ
يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا
عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ
وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ
عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي
كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ
وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ
ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٥٧
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang
(namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi
mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma´ruf dan melarang mereka dari
mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan
mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban
dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya.
memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan
kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Maka
di dalam assunah tidak terdapat hal yang memberatkan manusia di dalam agamanya
atau membahayakan dunianya tapi beliau berkata “saya tidak di utus kecuali
menjadi rahmad bagi seluruh alam.
B.
Kewajiban
muslim mengikuti Assunah.
Salah
satu kewajiban dari seorang muslim ialah memahami manhaj nabawi secara
terperinci melalui metode syumul, takamil, tawazun, waqi’iyah, tayasir dan
apapun yang sudah jelas dari maslah ketuhanan,kemanusiaan, akhlaq supaya dapat
diambil sebagai uswatun hasanah seperti firmanya dalam surat al ahzab:
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن
كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah
وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا
نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ
ٱلۡعِقَابِ ٧
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang
dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.
Maka diwajibkan kepada setiap muslim untuk mengetahui bagaimana menghiasi
diri dengan Assunah Nabawiyah, mengamalkan dan memahami jalanya seperti yang
dilakukan oleh generasi terbaik era ini yaitu mereka yang mengikuti nabi dalam
jalan kebenaran, mereka mengajar dan mengamalkan Assunah dengan baik.
C. Hal-hal yang harus di waspadai dalam berinteraksi dengan Assunah:
a.
Orang
yang belebihan yaitu: orang yang memalingkan makna hadist dari makna yang
semestinya, yang menyimpang dari tawasuth yang menjadi ciri dari agama ini,
menjauhkan dari asamhah yang menjadi jalan yang lurus, dan memalingkan
keringanan beban di dalam syari’at.
b.
Pernyataan
orang yang batil yaitu: pernyataan orang yang batil yang mengubah esensi dari hadist dan merubahnya kedalam
makna yang bukan semestinya.
c.
Ta’wil
dari orang yang bodoh: yaitu takwil yang menghilangkan hakikat dari islam,
mengubah makna kalimat dari hadist dari yang semestinya, mengikis islam sedikit
demi sedikit, menghilangkan hukum-hukum dan ajaran-ajaran yang penting, seperti
usaha mereka untuk memasukan hal yang bukan bagian dari Assunah.
D.
Dasar-dasar
pokok mengamalkan Assunah.
Seyogyanya
bagi orang yang ingin mengamalkan Assunah untuk mewaspadai tulisan orang-orang
yang batil, orang yang berlebihan dan orang yang takwilnya orang yang bodoh dan
menetapkan beberapa dasar pokok dalam mengamalkan Assunah:
1.
Mengakui
ketetapan Assunah
Yaitu mengakui
ketetapan Assunah dan kesahihan dengan kaedah ilmiyah dan akurat yang telah di
tetapkan oleh imam yang diakui kredibilitasnya mencakup sanad dan matan atau
perkataan perbuatan dan ketetapan nabi SAW.
2.
Memahami
dengan baik Assunah.
Hendaknya
memahami sunah nabi dengan baik, dengan melihat dari segi bahasanya, dan
konteksnya hadis, sebab di turunkanya dan lain-lain.berkata syekh Mahmud
syaltut rektor Azhar terdahulu: sesungguhnya bencana dalam hadis itu bukan
dengan tidak shahihnya suatu hadis, terkadang orang menukil suatu hadis shahih
namun memahaminya dengan pemahaman yang salah,oleh karena itu para peneliti
dari ulama-ulama kita terdahulu telah memperingati kita agar tidak jatuh dalam
pemahaman yang salah dalam memahami hadis
3.
Terhindarnya
suatu hadis dari hadis lain yang lebih kuat.
Yaitu memastiakan
tidak adanya nash-nash lain yang bertentangan dan lebih kuat baik dari Alqur’an
dan hadist yang lain baik ditinjau dari
segi jumlah perawi (ahad atau mutawatir) atau kesahihannya, atau lebih sesuai
dengan ilmu-ilmu ushul.
Perkara ini
merupakan salah satu bagian penting
dalam ilmu ushul fiqh,dan ilmu ushul hadis, atau dikenal dengan istilah
(ta’arudh wa tarjih) hal itu dikarenakan terkadang ada beberapa hadis yang secara
zhairnya bertentangan dengan hadis lainnya, namun pada hakikatnya tidak
bertentangan, untuk itu hendaklah para ahli ilmu dan fiqih untuk menghilangkan
hal-hal yang bertentangan secara zhahirnya dengan men kompromikannya apabila
mungkin, atau dengan mentarjih diantara keduanya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan.
Dalam memahami Alqur’an al-karim tentunya
memerlukan banyak komponen yang harus di kuasai oleh seseorang yang akan
memahaminya, dan pemahaman yang diperoleh akan tidak benar jika hal-hal tersebut
kurang di perhatikan diantara komponen yang terpenting yang harus di
kuasai dalam memahami Al-qur’an adalah
Assunah atau keterangan dari nabi Muhammad SAW yang berupa perkataan,perbuatan,
dan ketetapan beliau. Untuk mempermudah dalam memahami assunah para ulama’
mencoba menawarkan metode-metode untuk memahaminya, begitu pula imam Yusuf
Al-qordhowi beliau menawarkan sebuah metode dalam memahami Al-qur’an
diantaranya yaitu menggulongkan assunah di dalam beberapa penggolongan:
1. Metode syumuli atau kompehersif.
2. Metode mutawazan atau keseimbangan.
3. Metode takmili atau penyempurna.
4. Metode waqi’I atau kenyataan.
5. Metode muyasir atau mempermudah.
Kemudian setelah itu beliau memberi
infomasi kepada kita semua bahwasanya setiap muslim wajib untuk mengikuti dan
menjalankan tuntunan yang telah diajarkan oleh nabi Muhammad SAW, seperti yang
termaktub dalam surat ali imram ayat 31 “maka apabila kalian cinta kepada
Alloh maka ikutilah aku maka Alloh akan cinta kepadamu dan Dia akan memberi ampunan
atas dosa-dosa kalian”. Tapi beliau juga memberi rambu-rambu kepada kita
untuk waspada kepada tiga kelompok yang ingin merusak islam yaitu:
1. Pengaliahan makna dari golongan orang yang
melewati batas.
2. Pengalihan makna dari orang yang batil.
3. Takwil dari orang yang bodoh.
Tidak hanya berhenti di sana, tapi beliau
Yusuf Al-qordhowi memberikan dasar-dasar yang harus di miliki oleh seseorang
yang ingin mengamalkan Assunah yaitu:
1. Mengakui ketetapan dan keabsahan suatu
hadist.
2. Memahami hadist dengan baik.
3.
Terhindarnya
suatu hadis dari hadis lain yang lebih kuat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Al-qordhawi
yusuf Kaifa nata’amal ma’a sunnati nabawiyah,dar asyuruq 2004.
Langganan:
Postingan (Atom)